8. Baru

Pukul 11 malam adalah waktu dimana Akaru memulai hari baru. Diputarnya kursi hitam itu agar tegak menghadap ke setumpukan buku tebal. Ia kembali menjatuhkan dirinya disana. Membaca.
Ini di Jakarta, bulan Desember.
未来
Akaru tidak seperti kebanyakan mahasiswa teknik kimia yang tidak berminat dengan humaniora dan ilmu sosial. Ia terbiasa untuk benar-benar meninggalkan dunia teknik kimia-nya saat keluar kelas. Sementara tumpukan buku itu membahas sosiologi, ekonomi, administrasi dan beberapa di antaranya adalah tulisan sastra berisi kumpulan puisi dan kisah-kisah yang direkomendasikan Haiwah untuknya. Ia juga telah membaca hampir 40% kitab-kitab hukum kavling dan poskav di seluruh dunia sepanjang 2 tahun memasuki dunia kampus. Akaru tentu saja harus melakukannya agar mampu memenuhi konsesi jabatannya dalam memimpin mahasiswa sedunia.
Mata sipitnya itu sesekali menggigil, terbawa suasana pemikirannya sendiri. Ia salahsatu dari aktivis kampus yang masuk dalam daftar ‘demosilog’, sebutan yang dinisbatkan bagi orang yang memiliki skor sempurna Intellectual Stratum (IS). Jadi ia terbiasa berpikir melintas dalam silogisme-silogisme umum, khusus dan varian, dalam kecepatan sangat tinggi.
Silogisme adalah bangunan utama pola keilmuan peradaban ini. Masyarakat kavling diajarkan doktrin beku sejak di sekolah dasar, “Tidak ada satupun ilmu yang bukan hasil dari silogisme, kecuali ia tangkapan pancaindera yang disebut fakta. Tinggi dan rendahnya taraf ilmu dinilai dari kuat-lemahnya jalinan silogisme pembuktiannya.”
Para demosilog minimal dapat mencerna satuan informasi dalam keseluruhan taraf berpikir – mengingat, menimbang/menghubungkan, menemukan sebab-akibat dan mengambil simpulan – hanya dalam waktu kurang dari 10 detik. Dalam kasus Akaru, ia melakukannya setiap 5 detik. Jadi jika dalam satu informasi terdapat olahan 10-30 tangga silogisme, dalam hitungan rata-rata, ia mempunyai kemampuan untuk melintas dalam 7200-18600 silogisme per jam.
Namun Akaru tidak senantiasa sehebat itu, sebab sesekali, dalam bacaan itu ia teringat warna dan nada bicara Haiwah. Perempuan satu itu memang selalu jadi celah ketidaksempurnaan yang menganggunya sejak pernikahan mereka 8 bulan lalu. Sekaligus keindahan tersendiri, ralatnya.
Seorang demosilog dilindungi oleh filsafat dan konstitusi kavling untuk mendapatkan ruang pengembangan diri seumur hidup. Mereka dibiayai kongres kavling tertinggi beserta perangkatnya sampai di taraf poskav di seluruh dunia. Mereka dapat membangun perusahaan lalu rugi dan kembali mendapat kucuran modal tanpa henti.
Bahkan ada anggapan yang sangat populer bahwa sekalipun seorang demosilog entah bagaimana ceritanya berada di hutan terpencil di bumi, jika disana ada satu orang aparatur poskav yang menemaninya, maka ia tetap harus dapat hidup sekalipun dengan menggigit tubuh orang pemerintahan itu. Demosilog, punya ‘singgasana’ tertinggi dalam struktur kemasyarakatan kavling. Mereka hanya berjumlah tidak lebih dari tujuh ribu orang dari delapan miliar orang di seluruh dunia dalam peradaban ini.
Di lain sisi, para demosilog tidak boleh menjadi penduduk tetap salahsatu kavling ataupun salahsatu poskav. Mereka juga akan dicaci-maki media seluruh dunia apabila tidak mampu, apalagi tidak mau, menyelesaikan konflik ataupun permasalahan pemerintahan dan kemasyarakatan kavling. Ketika selesai dari perkuliahan, mereka sudah pasti akan hidup dalam kesibukan. Namun dengan hal tersebut, sebagian besar dari mereka juga hidup dalam kehampaan.
Seluruh dunia menjadikan mereka daftar panggilan untuk menyelesaikan apapun. Sehingga sekalipun perusahaan yang mereka bangun memiliki taraf profit yang sangat baik, mereka tidak akan bisa menikmatinya dengan rakus sendirian. Oleh karenanya sebagian besar dari mereka ‘mengabdi di kampus’ sampai tua atau memilih menjadi pengurus forum demosilog sedunia seumur hidupnya sambil menulis berjilid-jilid buku hasil pemikiran mereka. Dalam kasus Akaru, kedua pilihan itu tidak ada yang membuatnya berselera.
Seorang demosilog sebenarnya bisa saja menolak hadir ke sidang kongres kavling dan poskav, sidang partai kavling dan poskav, sidang kampus, sidang pengadilan-pengadilan, proyek perintisan teknologi mutakhir, dan forum-forum serta undangan-undangan lainnya yang ‘menyuruh’ mereka berpendapat dan menerbitkan brief letter of demosilog’s opinion. Ia juga bisa saja tidak peduli ketegangan dunia antar kavling, rendahnya tingkat pencapaian suatu generasi poskav tertentu dalam ujian IS tahunan atau fakta-fakta lainnya yang menyangkut perikehidupan kemasyarakatan dunia. Lalu sebagai akibatnya yang paling maksimal, mereka akan mendapat kecaman dari pemerintahan tingkat kavling atau poskav tertentu yang menilai buruk sikap mereka. Kecaman itu, paling optimal berbentuk larangan kedatangan waktu tertentu. Jika begitu kondisinya, mereka akan semakin terkucilkan dari penduduk bumi, sebab mereka bukanlah penduduk tetap dari kavling atau poskav manapun. Konklusinya, dalam jalan berpikir seperti ini, uang yang mereka dapatkan dari pemerintahan itu sangat mungkin berubah rupa jadi suapan yang menghinakan.
Seorang demosilog laki-laki biasanya akan menikah dengan demosilog perempuan. Hal ini karena tidak mungkin seorang suami atau istri akan cukup ‘tahan’ dengan pola hidup seorang demosilog, kecuali mereka menjalaninya bersama. Masalah muncul ketika anak mereka yang berumur 18 tahun tidak sepintar orangtuanya ketika mengambil IS.
Setidaknya media inter-kavling rajin memuat ‘hasil paparazi’ kisah anak-anak para demosilog yang gagal. Kebanyakan anak-anak menyedihkan itu mengambil IS sampai 12 kali, sampai umur mereka 29 tahun, umur maksimal peserta ujian IS. Lalu mereka barulah menyerah dan merutuki kekurangan diri sampai mati. Sebab masyarakat dunia mempercayai bahwa lebih dari sebuah pencapaian normal, eksistensi demosilog adalah suatu fenomena yang tidak bisa dipelajari. Buktinya, hingga saat ini tidak satupun demosilog yang pernah mengambil ujian IS untuk kedua kalinya. Ia menjadi seorang demosilog sejak semula.
Ujian IS adalah sesuatu yang secara otomatis harus diikuti untuk setiap anak berumur 18 tahun yang akan masuk ke pencatatan sipil. Mereka dapat mengambil IS sekalipun belum berumur 18 jika memang telah menyelesaikan sekolah dasar. Sebab ujian IS pertama bagi setiap anak melekat pada proses kelulusannya dari sekolah dasar. Dan hampir dapat dipastikan tidak ada seorangpun anak generasi peradaban ini yang tidak menjalani sistem sekolah dasar sepuluh tahun itu. Hal ini karena tatanan kehidupan di bawah filsafat dan konstitusi kavling berbasis pada penghargaan terhadap akal kemanusiaan. Sebagaimana syair yang dikampanyekan Zeineth Godban, seorang demosilog yang menjadi kritikus dan budayawan global favorit Haiwah,
Akal adalah candu. Akal adalah sanksi. Akal kami adalah strata. Aku menjadi akal bukan karena mauku
Perlahan matahari menyingsing di balik gorden biru yang dua meter di sebelah kanan Akaru. Ia kembali menegakkan kepala, merajut satu demi satu reaksi kimia yang bergejolak dalam sinaps-sinaps akalnya. Bahunya terasa begitu berat dan pangkal tulang punggung di belakang lehernya terasa begitu panas. Akaru masih menerbangkan imajinya seraya bangkit memulai pagi harinya untuk beraktivitas di luar rumah.
Ia adalah seorang demosilog, keturunan demosilog.
Mirafajri, 明るいの未来、h.22-24.

Tulisan hari ayah

falcon

Memiliki seorang ayah dan ibu adalah suatu kesyukuran yang tidak terbayangkan dapat digantikan atau diperbandingkan dengan apapun.

Dari keduanya Allah mengajarkan makna kemanusiaan yang asli, yang pertama kali.

Yang dalam budaya Jepang, “Otou san” yang dihormati dan “Oka chan” yang dicintai.

Kepada ayah dan ibu yang setiap pengorbanannya tidak akan terbayarkan sepanjang hidup anak-anaknya. Semoga Allah memasukkan yanda dan bunda ke dalam JannahNya dalam perhitungan yang mudah sebagai balasannya. Aamiin.

(Tidak ada judul)

Pagi ini saya membaca suatu tulisan di media online yang sayangnya, belum saya ketahui dengan jelas kekuatan pemberitaannya, disini. Namun setidaknya, tulisan tersebut mengingatkan saya dengan kejadian yang menimpa saya beberapa pekan lalu di kampus.

Siang itu saya baru selesai dari urusan di kampus. Lalu segera kembali ke motor pinjaman yang diparkir di sebelah gedung rektorat.

Namun karena pada hari itu dua orang sahabat sedang berkunjung ke Malang, seraya duduk di motor saya menelepon keduanya untuk bisa bertemu.

Usai berbicara di telepon, saat akan menyalakan mesin motor, seseorang menghampiri saya seraya katanya, “Kamu aktivis KAMMI?”

Saya tidak berpikir banyak, hanya menanggap dengan biasa dan seadanya. Pembicaraan singkat itu dimulai seperti itu, yang berakhir dengan perasaan menyesal yang mendalam. Saya pikir, “memang saya tidak berilmu” dan “saya tidak fasih”.

Saya mengutuk diri sendiri, karena bersedih, tidak dapat menyampaikan hujjah secara lengkap kepada orang yang membutuhkannya. Alangkah irinya saya dengan orang berilmu yang menjadi rembulan di antara bintang-bintang. Pikiran saya meracau, berharap tiba-tiba datang guru kami yang ini, atau yang itu. Semoga Allah mengampuni saya.

Dalam pembicaraan itu, orang tersebut hanya sempat mengajukan dua pertanyaan berisi bantahan sebelum akhirnnya saya mengatakan “bukan itu yang saya maksud” lalu mengucap salam dan pergi. Dua hal tersebut:

  1. “Kenapa harus membawa apa yang di luar Indonesia? Coba pikir, apa logis kalau kita mewariskan keturunan Indonesia dengan pemahaman Timur Tengah.”
  2. “Yasinan itu kamu anggap bid’ah? Kalau begitu Al Qur’aan itu juga bid’ah,motor kamu itu juga.”

Tulisan ini mengingatkan saya akan jawaban yang saya sampaikan bahwa Islam diikuti bukan dengan alasan geografis.

Raja Faisal menjawab, “Tuan Presiden, saya masih belum bisa memahami anda, bukankah anda orang yang taat beragama dan mengimani kitab suci anda. Tentunya anda senantiasa membaca kitab suci anda. Anda tentunya pernah membaca bahwa yahudi datang dari Mesir lalu mereka menyerang Palestina, membakar kota-kota, membunuh anak-anak dan wanita, lalu menaklukkan Palestina. Bagaimana mungkin anda bisa mengatakan bahwa Palestina adalah tanah leluhur mereka? Palestina adalah tanah asli suku Arab Kan’an, dan yahudi adalah penjajah. Itu yang tertulis dalam alkitab anda. Dan anda ingin mengembalikan penjajahan yan pernah diwujudkan Yahudi pada 4000 tahu yang lalu, tapi kenapa anda tidak ingin mengembalikan penjajahan Roma terhadap Prancis yang baru saja terjadi pada 3000 tahun yang lalu? Apakah kita harus menata ulang peta dunia demi kepentingan yahudi, tetapi kita tidak mau menata ulang peta dunia untuk kepentingan Roma? Anda juga tentunya belum lupa, kalau kami Muslim Arab pernah menduduki Selatan Prancis selama 200 tahun, sementara yahudi kuno menduduki Palestina cuma 70 tahun doang lalu kembali terusir kelaur Palestina“.

tapi yahudi mengklaim bahwa nenek moyang mereka terlahir disana!“, balas Presiden Charles.

Anda ini benar-benar aneh. sekarang di paris ada 150 kedutaan asing. Mayoritas Dubes-Dubes dan para Diplomat sempat melahirkan anak-anaknya di Paris. Kalau suatu saat anak-anak kelahiran Paris itu datang ke Prancis dan menuntut anda untuk meninggalkan negeri ini untuk diduduki oleh mereka yang pernah terlahir di Paris, maka akan seperti apa nasib Paris? Paris akan menjadi milik siapa?“.

Kita tidak bisa ber-Islam jika yang kita niatkan adalah mewariskan tradisi atau kebudayaan. Sebab bukan kita yang menjadikan bangsa-bangsa di dunia, tapi Allah. Kita tentu saja dilahirkan di bumi untuk menjadi khalifah dan hamba Allah sebagaimana diajarkan dalam QS. Adz- Dzariyaat. Allah yang mengurus kita sehingga kita dijadikanNya berbangsa-bangsa dan berbahasa, sepanjang sejarah. Hal tersebut bukanlah hal yang harus kita khawatirkan, anak keturunan kita akan tetap berbangsa-bangsa sebagaimana Allah menghendaki. Itu adalah kesyukuran, sekaligus amanah dan tanda-tanda Kekuasaan Allah Subhanahu Wata’ala.

‘Urf sendiri, di dalam ushul fiqih bukan metode yang utama. Senantiasa terikat dengan penghakiman nash syar’i. Kalimat “Apakah kita harus menata ulang peta dunia demi kepentingan yahudi, tetapi kita tidak mau menata ulang peta dunia untuk kepentingan Roma?” bagi saya begitu memukau dan fasih.

Jadi, jika kita menuruti nafsu kewilayahan untuk membanggakan keturunan kita, itu bertentangan dengan hakekat keimanan.

Masih dalam bahasan poin yang pertama, orang tersebut mengatakan, “kamu tidak seharusnya mengadopsi pergerakan timur tengah”. Saya katakan,”itu adalah perkara teknis, bukan manhaj. itu adalah referensi bukan adopsi”. Ia katakan, “Beda referensi dan adopsi, kamu itu mengadopsi. Baca di KBBI”. Padahal, saya tidak pernah membuat pernyataan bahwa kedua istilah itu adalah sama.

Saat itu saya berpikir, jika dalam posisi pembicaraan itu, memang saya satu-satunya pihak yang disebut ‘aktivis’ KAMMI, maka seharusnya dia percaya apa yang saya katakan, bahwa itu referensi bukan adopsi, bahwa itu perkara preferensi teknis dakwah bukan manhaj dakwah. Sebab saya yang menjalaninya sejauh ini bukan? Ia pula, menunjuk pada diri saya.

Allah telah mengutus rasulullah saw dan menurunkan Islam sebagai penutup zaman. Saya pikir, baik-baiknyalah kita hanya berpegang pada Al Qur’aan dan as sunnah semata.

Lalu orang itu mengatakan, dirinya nasionalis.

Karunia Allah bahwa saya dilahirkan sebagai orang Indonesia adalah suatu hal yang senantiasa saya syukuri. Saya bersama kaum ini dan membersamai kaum ini. Ini adalah tanah dimana risalah dakwah disebarkan dan penduduknya begitu ksatria, melantunkan takbir saat memperjuangkan kemerdekaan.

Tapi tanah dan penduduk semata tidak akan serta merta mengantarkan pada kebenaran dan keadilan hakiki. Tanah dan segolongan penduduk tidak serta merta membimbing kita kepada perjuangan yang benar yang meninggikan kalimatullah yang mengantarkan pada surgaNya.

Tanah dan penduduk ini adalah karunia dan amanah. Maka jika orang mempertanyakan nasionalisme saya, saya katakan bahwa perjuangan kebangsaan saya adalah untuk melindungi tumpah darah Indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan menjalankan perdamaian dunia.

Saya mempelajari hukum dan kita sama-sama tahu bahwa hukum buatan manusia senantiasa berubah. Ia hanya akan menjadi barokah ketika dibina untuk menjadi sarana mendekatkan ummat pada Allah, seperti shahifatul madinah. Apakah kita tidak belajar filsafat saat belajar hukum? Apakah ada tokoh hukum yang tidak memiliki filsafat? Maka saudaraku berhentilah berimajinasi konyol bahwa ada ruang di dunia ini dimana kebenaran dan kebatilan berhenti bertabrakan. Tidak. Satu-satunya hal yang harus orang terpelajar senantiasa ketahui adalah pembacaan tentang yang haq dan yang bathil. JIka anda tidak pernah merenungkan tentang hal-hal ini anda bukanlah pejuang.

Siapakah yang mengajari para ulama Indonesia ketika ikut serta menyusun keempat tujuan kemerdekaan, jika bukan kalimat Allah dan hadist rasulullah SAW,

Ialah tentang perlindungan dan ajaran kemuliaan akhlaq yang seharusnya ditaati seorang muslim,

… Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya… (QS. al- Maidah: 32)

Seorang muslim adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Seorang penguasa adalah pelindung Allah dibumi, yang kepadanya orang-orang yang teraniaya meminta perlindungan. Bila dia berlaku adil, maka dia mendapat pahala sempuma dan rakyat pun bersyukur pula. Dan bila dia menyeleweng, curang atau zhalim, maka dia mendapat dosa dan rakyat pun hams sabar menghadapinya. Apabila para penguasa bertindak curang, maka langit tidak akan menurunkan hujan. Apabila zakat sudah tidak dibayarkan, maka hancurlah binatang-binatang. Apabila perzinaan telah merajalela, maka kemiskinan pun akan melanda umat manusia. Dan apabila tanggung-jawab sudah disia-siakan, maka berjayalah orang-orang kafir.” (HR. Ibnu Majah)

Ialah tentang ilmu dan menyebarluaskannya,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al- Baqarah: 269)

“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS. Thaahaa: 144)

Sahabat Ikrimah ra berkata, bahwa sahabat Ibnu Abbas ra telah berpesan: “Nasehatilah umat manusia sekali saja di dalam Jum’ah. Apabila menentang, maka dua kali. Bila kamu menghendaki lebih banyak lagi, maka tiga kali saja. Janganlah kamu membuat kebosanan kepada umat manusia dengan Al-Qur’an ini, dan janganlah kamu datang memberikan nasehat kepada sekelompok orang yang sedang berbicara, hingga kemudian memutus pembi­caraan serta ketenangan mereka. Sebab yang demikian bisa mehdatangkan kebosanan terhadap mereka. Sebaiknya kamu mendengarkan lebih dahulu pembicaraan mereka, baru setelah dipersilahkan maka sampaikanlah nasehat kepada mereka. Sebab de­ngan mempersilahkan, berarti mereka telah mengharapkan nasehat-nasehatmu. Dan di dalam berdoa, janganlah menggunakan teks doa yang berpuisi (bersajak). Sebab sepanjang hidupku aku belum pernah menemukan Rasulullah dan para sahabatnya melakukan hal seperti itu.” (HR. Bukhari)

Ialah tentang mengurus kesejahteraan orang-orang,

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An- Nisaa: 58)

… Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: ” Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al- Baqarah: 220)

Sahabat Abi Hurairah ra berkata, bahwa Rasulullah saw telah bersabda: “Orang yang memikirkan serta mengurus nasib orang janda, orang miskin, dan anak yatim adalah termasuk orang yang berperang meluhurkan agama Allah.” Dan aku (Abi Hurairah) menduga Rasulullah saw juga bersabda: “Orang yang memikirkan serta mengurus nasib orang janda, orang miskin, dan anak yatim adalah (mendapat pahala) seperti orang yang berdiri melaksanakan shalat sunat sepanjang malam, dan seperti orang yang puasa sepanjang tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Juga, tentang worldview,

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Sabaa: 28)

Dan seterusnya, dimana hanya dari Islam tuntunan kebaikan itu bisa diraih, “Barangsiapa yang diridhoi Allah menjadi baik, maka dikaruniakan kepahaman agama kepadanya.” HR. Bukhari dan Muslim.

Kemudian, menyangkut poin kedua, saya segera meninggalkan orang tersebut ketika dikatakannya bahwa Al Qur’aan yang sekarang adalah bid’ah. Pernyataan tersebut menurut saya, adalah pernyataan yang menyiratkan bahwa benar-benar ia berbicara untuk mencari perselisihan, bukan nasehat. Tajwid bukanlah bid’ah dalam ibadah. Juga shalat tarawih berjamaah sudah pernah dilaksanakan rasulullah saw, namun kembali disambung berdasarkan pendapat Umar bin Khattab ra.

Saya memahami bahwa hukum asal ibadah adalah haram, kecuali disyariatkan. Berbeda dengan muamalah yang hukum asalnya halal, kecuali dilarang.

Oleh karena dalam perjalanan derivat prinsip itu, ada perbedaan pendapat dalam tafsir hujjah dan fiqih, maka saya tidak pernah menyatakan sikap ini jika tidak ditanya. Sebab bagi saya, hal tersebut adalah hal yang tidak qualified dibesar-besarkan sehingga menimbulkan kebencian sesama muslim yang sama-sama awam.

Tapi apakah kita jadi gugur kewajiban untuk mencari keyakinan pemahaman yang benar? Tidak.

Wallahu’alam. Semoga Allah mengampuni saya, aamiin.

Mohon sahabat semua lebih banyak memaafkan dan menasehati saya yang banyak salah. :’)

Jokowi dan Kegoyahan Negara

Pemerintahan Jokowi hari ini sejatinya bertahta pada suatu momen nasional yang kritis. Sesak dan pedihnya Asap Riau menjadi dentum tersendiri atas keriuhan inefektifitas pengelolaan negara. Tahun 2015 adalah tahun dimana akumulasi pandangan futuristik diselenggarakan secara masif. Pergeseran-pergeseran tren pengelolaan negara dalam berbagai bidang menemui konsesi riilnya. Sehingga setiap tarikan sentripetal dalam beberapa aspek seakan memperlihatkan ‘kegoyahan negara’.

Pada aspek ekonomi, realisasi ASEAN FTA harus dipenuhi. Konsekuensinya, penarikan modal untuk percepatan manufaktur dan ketahanan usaha mendorong terjadinya tren peningkatan volume utang luar negeri oleh swasta, hingga terus jauh mengungguli pemerintah hari ini. Pada Januari 2013, volume utang swasta mulai menguat di kisaran 127 Miliar USD, menyalip volume utang pemerintah di kisaran 126 Miliar USD. Hingga pada Januari 2015 meningkat menjadi 165 Miliar USD jauh mengungguli pemerintah di level 131 Miliar USD. (Ginandjar Kartasasmita, 2015)

Tren tersebut setidaknya sedikit banyak harus mengingatkan kita pada narasi awal kejatuhan moneter Indonesia tahun 1998, dimana volume utang swasta menjadi momok kunci atas defisit transaksi berjalan, krisis lapangan kerja dan penurunan pertumbuhan ekonomi.

Pada aspek politik, realisasi Pilkada serentak, harus dipenuhi. Penguatan desentralisasi dalam kancah demokrasi di Indonesia, menuntut efisiensi dan efektivitas administrasi negara. Parpol pendukung Presiden, bersama-sama dengan parpol oposisinya harus secara khusus ‘bekerja’ sepanjang 2015, menuju 2017 hingga 2019, jika tidak ingin tersingkir pasca selesainya rezim lima tahunan nasional.

Pada aspek hukum, realisasi evaluasi lembaga negara anak kandung reformasi, harus dipenuhi. Jokowi terlanjur lahir dari menguatnya polemik dan keresahan rakyat Indonesia di sekitar pertanyaan, “Apakah reformasi sudah berhasil memperbaiki nasib kita?”.

Pasal 33 UUD NRI 1945 senantiasa dipertanyakan pengejawantahannya dalam kekalahan negosiasi saham Freeport, kelemahan perlindungan dalam industri air, penguasaan MNC atas perkebunan dan tambang di Kalimantan, juga minimnya pembelaan negara atas aturan preferensial tenaga kerja WNI di atas tenaga kerja asing. Hal ini ditambah dengan isu review eksistensi KPK, penguatan proporsional antara OJK dan BI serta pelembagaan BPJS.

Berubah menjadi Open State

Kegoyahan negara benar-benar jelas terlihat saat pemerintahan Jokowi dihadapkan dengan MNC dan negara-negara adidaya. Kita dapat saja memunculkan asumsi bahwa tren pergeseran pengelolaan negara yang dihadapi Jokowi, sejatinya merupakan suatu polarisasi integral atas goyahnya negara dalam mengelola tantangan politik internasional. Pada akhirnya, jati diri Indonesia sebagai negara kesejahteraan sebagaimana amanat pembukaan UUD NRI berubah menjadi – meminjam istilah Karl-Heinz Ladeur – open state yang hanya mampu bertumpu pada urgensi ‘faktor lokasi’.

Hal yang harus kita sadari adalah perihal signifikansi ekonomi. Diagram naik-turunnya mata uang Indonesia yang senantiasa berikatan dengan dinamika kebijakan Amerika Serikat maupun Federal Reserve menunjukan bahwa dalam struktur ketatanegaraan dunia saat ini terdapat suatu terma kekuatan kedaulatan. Benar apabila dikatakan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat sama-sama berdaulat, namun bukan berarti realisasi kedaulatan itu ada pada taraf derivat yang sama. Kita harus mengakui, bahwa dihadapan perekonomian global, kedaulatan hukum negara cenderung bersifat relatif.

Kita telah belajar bahwa krisis 2008 disebabkan oleh dampak subprime mortgage Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia. Bahwa hal tersebut menjadi pukulan terhadap prime market, sehingga nilai pinjaman Indonesia bisa menurun dan mempengaruhi pasar modal, dimana hal tersebut merupakan suatu global snow down terhadap negara yang secara ekonomi berhubungan dengan AS (Joseph Stiglitz, 2007: 46).

Tidak seperti AS, Indonesia tidak pernah mengawali kejatuhan prime market dan global snow down terhadap jejaring ekonomi globalnya. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa benar-benar ada suatu batas taktis dalam definan ‘Indonesia’ dan ‘asing adidaya’.

Sementara kenyataan perihal MEA yang disebut-sebut sebagai solidaritas politik, keamanan dan ekonomi Asia Tenggara, tidak memberikan jaminan apapun. Sebab, melihat perkembangan global maupun di wilayah ASEAN, arus masuk investasi langsung, tidak digerakkan oleh negara-negara anggota ASEAN, melainkan oleh perusahaan-perusahaan multinasional Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang (Syprianus, 2014: 155).

Maka pemerataan dan peningkatan taraf ekonomi dengan liberalisme perdagangan dan industri yang menghendaki barrier-less dan border-less yang sama terhadap negara-negara yang memiliki signifikansi ekonomi yang berbeda, adalah suatu logical fallacy.

Kita terjerembab dalam kontestasi moneter yang tidak akan menguntungkan kita. Dimana asing telah menguasai 65% pasar modal kita sekaligus memegang 38% obligasi pemerintah (Ginandjar Kartasasmita, 2015). Di lain sisi, jadwal suksesi sepanjang 2015 hingga 2019 mendorong akses alir investasi politik ke daerah-daerah. Secara sederhana, tahun 2015 hingga 2019 adalah saat yang tepat untuk menangguk aliran masuk investasi asing ke daerah, dimana pasar bebas Indonesia baru saja dibuka pada kuartal pertama. Sebab, manufaktur asing sudah dapat dengan mudah melewati pagar negara dan hanya perlu mendapatkan hak guna tanah dan bangunan di daerah-daerah.

Sementara itu, skema penafikan eksistensi KPK, pelembagaan OJK diluar BI dan pelembagaan BPJS menjadi basis pengaman intervensi minimal negara dalam penyejahteraan rakyat. Pelemahan hukum atas tindak pidana korupsi, disusul polarisasi pengurusan bank swasta, menyempurnakan posisi negara yang sekedar mengurus perputaran anggaran ‘santunan’.

Kita juga harus mengingat bahwa IPO yang dibuka oleh Freeport dalam divestasi 10% sahamnya tidak mampu dibeli pemerintah. Juga tentang liberalisasi harga BBM yang menjadi tarikan konvergen terhadap naik-turunnya harga barang. Pilihan-pilihan kebijakan Jokowi tersebut, secara tepat menempatkan kita pada saat ini dalam situasi selayaknya anak ayam yang di lepas di hutan belantara untuk saling bersaing dan menghadapi marahabaya sendiri-sendiri. Dimana anak-anak ayam itu mengenali negara sebagai suatu ‘santunan sementara’ yang harus dicapai dengan susah payah.

Satu tahun berjalannya pemerintahan Jokowi, dalam aspek-aspeknya secara presisi mengubah jati diri Indonesia dari negara kesejahteraan menjadi open state, yakni suatu tipe negara kapitalis dalam logika pembangunan neoliberalisme.

Satu-satunya hal

Satu-satunya hal yang harus terus kita lakukan adalah mengawal pemerintahan Jokowi. Sehingga satu-satunya hal yang harus dilakukan pemerintahan Jokowi adalah membenahi ‘kegoyahan negara’. Kita sepantasnya miris dengan jargon “Kerja.. Kerja.. Kerja..” yang didengungkan pemerintahan Jokowi. Sebab setelah satu tahun koar-koarnya, tidak dibarengi pencapaian prestasi kerja yang relevan.

Tentu tidak pantas bagi seorang pemimpin menyuruh rakyatnya berpeluh dan berjibaku, sementara medan peluh yang sulit itu ia juga yang dengan sadar membuatnya. Telah jelas siapa yang dihadapi. Juga, telah jelas bagaimana mentalitas itu menghadapinya sejauh ini.